Rabu, 22 Juli 2009

Kurt Koban-Kobin

Wah ini saya malam-malam kembali berselancar di atas lautan data, yang disatukan dalam matriks dan algorithma, melewati bit-bit aliran sinyal, terhempas badai bandwith, berkali-kali terombang ambing dalam request error, terdampar karena address not found, namun semua itu tak kan ada artinya tanpa power supply. Ya ini saya dalam dunia maya, ikut menggunakan teknologi yang dinamakan internet.

Dunia sudah maju, itu kata koran, era informasi kata penyiar televisi. Tapi lihat itu saya malam-malam begini masih menikmati indahnya masa lalu, memandang ke belakang dalam suara Morrisey dalam Head Master Rituals, terpejam dalam petikan gitar Eric Clapton di Layla, sesekali berteriak lewat gertakan Kurt Cobain dalam Smell Like Then Spirit, melewati batasan sendiri bersama Jimmie Hendrix melalui Voodoo Child, lalu pergi dengan acuh bersama Bob Dylan di Like a Rolling Stone, duduk dan mulai mengalami hal-hal transendent ditemani Bob Marley and The Wailers dalam Redemption Songs, sesekali David Bowie datang menawarkan efek kosmik dalam Ziggy Stardust. Dan kemudian terbaring terucap syukur dalam alunan suara Bono. One life, we're not the same, we got to carry each others, carry each others.. Ini tahun 2009, sampai kini belum ditemukan mesin waktu, tapi atmosfer tahun 90, 80, 70, 60 masih bisa terasa salah satunya berkat internet.

Dengan bantuan internet ini saya kembali berjumpa dengan mereka, ikut meramaikan folder mp3 saya yang bergiga-giga banyaknya. Ikut menyadarkan saya bahwa mereka adalah pemusik, yakni orang atau sekumpulan orang yang bermain musik, bukan dewa bukan pula Tuhan, oleh karenanya tak perlu mereka disembah, atau berharap wangsit saat ke makamnya, karena saya yakin bukan itu yang mereka ingin saat satu dari mereka mati, mereka hanya ingin didengar ,dipuji dan dicerca karena musik. Walau tak jarang apa yang mereka bawa dalam musik mereka membawa banyak perubahan dalam kehidupan dan wajah dunia pada umunya.

Lihat itu Kurt Cobain, pria berambut gondrong pirang asal Seatle. Alih-alih bermain gitar dengan skill tinggi, dia menghidupkan semua distorsi dan mencabiknya dengan buas. Menganggukan kepala dan di akhir pertunjukkan dia hancurkan gitar. Kasar? Tidak menurut saya. Kurt Cobain buat saya adalah satu dari banyak orang yang marah dengan cara yang elegan, saat orang lain harus merusak pita suaranya sendiri untuk bersuara serak, dia sudah punya itu tanpa merusak apa-apa untuk hanya sekedar terdengar marah, marah karena dia memang merasa marah, dan amarahnya ada di musiknya, dan gitar yang dihancurkan adalah tambahannya.

Ini lah Cobain yang saat itu datang dimana pemusik tampil rapih dan necis. Dia muncul dengan rambut panjang kusut, sedikit brewok dan celana sobek ditambah flanel belel. Itu Cobain yang di akhir karirnya bermain akustik di salah satu stasiun televisi, masih gondrong dan dekil, dalam alunan akustik marah itu masih ada, distorsi itu tetap terasa, bias namun dalam..Itu Cobain yang akhirnya ditemukan tewas dengan kepala berlumuran darah dan sebuah peluru bersarang di dalamnya, ditemukan senjata, diduga bunuh diri, atau diri dibunuh..apa pun itu Cobain, adalah hak mu untuk hidup semau mu, adalah kehendak mu untuk mengakhiri hidupmu, saya cuma penggemar, yang ternyata sadar jika saja kamu hidup hari ini saya sangsi kamu masih bisa marah sekeren itu.

I'm the one who like all your pretty songs
and I like to sing along..
but I don't like to shoot my gun
and i don't know what it's mean

-Cut Kobain, in blo'on

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar